PERSPEKTIF MASYARAKAT DAN INDUSTRI TENTANGKONSERVASIDALAM PENGELOLAAN RUMPUT LAUTBERKELANJUTAN(STUDI KASUS KABUPATEN TAKALAR, SULAWESISELATAN)
DOI:
https://doi.org/10.33096/kysg1e38Abstract
Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan merupakan salah satupusat budidaya rumput laut terbesar di Indonesia, dengandominasi spesies Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spp. yangmendukung pasar karagenan global. Namun, ekspansi industri inimenimbulkan konflik dengan konservasi habitat rumput laut liarakibat degradasi ekosistem, perubahan iklim, dan praktikbudidaya tidak berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasipengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) dari 99 pemangkukepentingan yang terbagi menjadi kelompok Directly InvolvedSeaweed Stakeholders (DISS/industri) dan Indirectly InvolvedSeaweed Stakeholders (IISS/konservasi). Hasil surveimenunjukkan pengetahuan dan sikap yang relatif baik(pengetahuan: DISS 76,0%; IISS 79,5%; sikap: DISS 85,7%; IISS94,2%), tetapi praktik masih rendah (DISS 52,4%; IISS 67,3%).Kesenjangan utama berasal dari pemahaman ancaman habitat darialam yang terbatas, hambatan struktural (kesadaran publik rendah,konflik regulasi), dan kendala praktis (akses teknologi dandukungan teknis). Integrasi perspektif kedua kelompok melaluitata kelola inklusif, pemantauan partisipatif, dan kapasitasbuilding direkomendasikan untuk mencapai pengelolaanberkelanjutan yang melindungi mata pencaharian masyarakatpesisir dan keberlanjutan keanekaragaman hayati laut perlu dijaga.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 dahlan dahlan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





.png)



