PERSPEKTIF MASYARAKAT DAN INDUSTRI TENTANG KONSERVASI DALAM PENGELOLAAN RUMPUT LAUT BERKELANJUTAN(STUDI KASUS KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN)

Authors

  • Dahlan Dahlan Universitas Yapis Papua

Keywords:

Rumput Laut, Pengelolaan Berkelanjutan, Perspektif Industri, Konservasi, KAP.

Abstract

Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan merupakan salah satu pusat budidaya rumput laut terbesar di Indonesia, dengan dominasi spesies Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spp. yang mendukung pasar karagenan global. Namun, ekspansi industri ini menimbulkan konflik dengan konservasi habitat rumput laut liar akibat degradasi ekosistem, perubahan iklim, dan praktik budidaya tidak berkelanjutan. Tujuan Penelitian ini mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) dari 99 pemangku kepentingan yang terbagi menjadi kelompok Directly Involved Seaweed Stakeholders (DISS/industri) dan Indirectly Involved Seaweed Stakeholders (IISS/konservasi). Hasil survei menunjukkan pengetahuan dan sikap yang relatif baik (pengetahuan: DISS 76,0%; IISS 79,5%; sikap: DISS 85,7%; IISS 94,2%), tetapi praktik masih rendah (DISS 52,4%; IISS 67,3%). Kesenjangan utama berasal dari pemahaman ancaman habitat dari alam yang terbatas, hambatan struktural (kesadaran publik rendah, konflik regulasi), dan kendala praktis (akses teknologi dan dukungan teknis). Integrasi perspektif kedua kelompok melalui tata kelola inklusif, pemantauan partisipatif, dan kapasitas building direkomendasikan untuk mencapai pengelolaan berkelanjutan yang melindungi mata pencaharian masyarakat pesisir dan keberlanjutan keanekaragaman hayati laut perlu di jaga.

Downloads

Published

2026-02-19