https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/issue/feedJURNAL ILMIAH WAHANA LAUT LESTARI (JIWaLL)2025-08-27T04:11:12+00:00Danial Sultanjiwall@umi.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>JURNAL Ilmiah Wahana Laut Lestari (JIWaLL) : </strong>Jurnal Perikanan, Ilmu dan Tekonologi Kelautan, Konservasi sumberdaya kelautan, pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, perencanaan fasilitas pantai dan laut, perencanaan dan pengolahan hasil perikanan, eksplorasi sumber daya hayati perikanan dan kelautan, pemetaan sumber daya perikanan dan keluatan, manajemen perikanan tangkap, memuat hasil-hasil penelitian/kajian yang meliputi aspek teknologi, manajemen, sosial ekonomi perikanan, kebijakan perikanan, pesisir dan laut.</p> <p style="text-align: justify;">Jurnal ini diterbitkan oleh <strong><em>Program Studi Ilmu Kelautan,</em></strong> <strong><em>Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Muslim Indonesia</em></strong> Makassar, Sulawesi Selatan dengan jadwal penerbitan 2 (dua) kali dalam satu tahun (bulan Februari dan Agustus) dengan tujuan menyebarluaskan informasi hasil-hasil penelitian tentang Pengelolaan sumberdaya Pesisir dan laut, Perkembangan Teknologi, Biologi Perikanan dan Kelautan, Penanganan dan pengolahan hasil perikanan dan pesisir laut, Manajemen perikanan tangkap, Eksplorasi sumber daya hayati perikanan dan kelautan, pemetaan sumber daya perikanan dan keluatan, Kebijakan pembangunan perikanan dan pesisir, Sosial ekonomi perikanan, dan Kewirausahaan/agribisnis.</p> <p style="text-align: justify;">Naskah yang dimuat dalam jurnal ini terutama berasal dari penelitian maupun kajian konseptual yang dilakukan oleh mahasiswa dan staf pengajar/akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, para peneliti di berbagai bidang lembaga pemerintahan dan pemerhati masalah Pesisir dan Kelautan, Konservasi sumberdaya pesisir dan Laut, perikanan, teknologi perikanan, eksplorasi Sumberdaya Perikanan.</p>https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/536Identifikasi Jenis dan Indeks Nilai Penting Lamun Pada Kawasan Pantai Ceria Kecamatan Kepualauan Tanakeke Kabupaten Takalar2025-08-19T04:50:37+00:00Saparuddin Saparuddinsaparuddin98@gmail.comHamsiah Hamsiahhamsiah@umi.ac.idAsmidar Asmidarasmidar@umi.ac.id<p style="text-align: justify;">Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2024 sampai dengan 9 Juni. Berlokasi di Kecamatan Kepulauan TanaKeke, Metode pengumpulan data dengan cara pengambilan sampel lamun dan megabentos menggunakan metode transek kuadran. Pengambilan sampel dimulai dari pemasangan transek dengan menggunakan roll meter yang ditarik tegak lurus garis pantai sepanjang 50 meter pada saat air surut. Penempatan transek dimulai dari ditemukan lamun menggunakan frame kuadran berukuran 1x1 meter.</p> <p style="text-align: justify;">Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Jenis-jenis lamun yang teridentifikasi di Pulau TanaKeke yaitu: Thallasia hemprichi, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila minor, dan Sirongodyum isoetifilium.; Indeks Nilai Penting tertinggi berada pada Cymodocea rotundata dengan nilai 109,27 dan terendah berada pada Halophila minor dengan nilai 21,09. Indeks Nilai Penting (INP) digunakan untuk menghitung dan menduga keseluruhan dari peranan jenis lamun didalam suatu komunitas. Indeks nilai penting (INP) berkisar antara 0 – 300. INP memberikan gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan terhadap suatu daerah. Semakin tinggi nilai INP suatu jenis relatif terhadap jenis lainnya, semakin tinggi peranan jenis pada komunitas tersebut.</p>2025-08-13T03:23:42+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/606Analisis Sebaran Kualitas Air Laut Berdasarkan Faktor Fisika Kimia di Teluk Awerange Desa Lawallu Kabupaten Barru2025-08-19T04:49:50+00:00Dewi Virgiastuti Jarirdewivirgiastuti@gmail.com<p>Teluk Awerange Desa Lawallu Kabupaten Barru menghasilkan limbah organik dan anorganik yang pembuangannya ke arah laut sehingga dapat mempengaruhi kualitas perairan tersebut dan dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air laut berdasarkan parameter fisika dan kimia di Teluk Lawallu Desa Lawallu Kabupaten Barru dan menentukan peta sebaran BOT, TSS dan DO dengan menggunakan aplikasi ArcGIS 10,8. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengukuran langsung yang dilakukan pada 10 titik pengukuran, yaitu 9 titik di sekitar outlet dan 1 titik di luar outlet (lepas pantai). Hasil pengukuran dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk kehidupan biota laut berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 51 Tahun 2004. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa parameter masih sesuai dengan baku mutu untuk kehidupan biota laut, yaitu dissolve oxygen (DO) dengan kisaran 29.55-0.15, pH 6.61-1.08, salinitas 8.12-0.14, suhu 31.05-0.63, amonia 0.12-0.03, nitrat 0.16-0.06, nitrit 0.01-0.00, BOT 20.55-10.17, TSS 34.4-9.48 dan alkalinitas 105.6-2.80. Sedangkan kondisi parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu air laut adalah Fosfat 0.04-0.02 dan telah melebihi baku mutu air menurut Peraturan (Kepmen LH no 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut).</p>2025-08-13T03:31:08+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/609Tantangan Penataan Kualitas Lingkungan Permukiman di Pesisir Bali Utara: Studi Kasus Desa Kubutambahan2025-08-27T04:11:12+00:00I Gede Budiartagede.budiarta@undiksha.ac.idIda Bagus Arya Yoga Bharataibaryayogabharata@gmail.com<p>Salah satu tantangan pesisir yang ada di Bali Utara adalah kualitas permukiman yang kumuh dan Desa Kubutambahan menjadi salah satunya sehingga perlunya identifikasi bagaimana upaya penataan kualitas lingkungan permukiman yang ada disana. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kualitas lingkungan permukiman dan mengidentifikasi tantangan penataan kualitas lingkungan permukiman prioritas. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif kuantitatif dengan melakukan skoring terhadap parameter kualitas lingkungan permukiman dan penentuan strategi prioritas dalam penataan kualitas lingkungan permukiman. Pembatasan penelitian adalah sampel area dengan pembentukan kelompok sites yang didalamnya terdapat titik kunci blok area permukiman di sekitar garis pantai untuk memberikan gambaran umum. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, Permukiman yang ada di sepanjang pantai Desa Kubutambahan memiliki status rata-rata kualitas lingkungan yang Sedang. Tantangan untuk penataan kualitas lingkungan permukiman yang dapat dilakukan mencangkup 1) memperbaiki Jalan masuk diaspal/ disemen, 2) penataan perluasan penutup rumah mukim rata/blok, 3) penataan kerapatan rumah untuk tidak begitu padat, 4) pelebaran jalan masuk, 5) penyediaan tempat penampungan sampah dan tempat pengelolaan sampah beserta menjaga kebersihan lingkungan, 6) menata tata letak blok permukiman agar teratur, 7) memperlebar luas rumah, 8) pelebaran luas halaman per blok.</p>2025-08-13T03:48:30+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/626Identifikasi Tingkat Kesegaran Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta) Dan Ikan Makarel (Scomber japonicus) di Pasar Sumedang Kota Kabupaten Sumedang2025-08-19T05:00:45+00:00N/A Juniantojunianto@unpad.ac.idDewi Herlinadewi23004@mail.unpad.ac.idMuhammad Hafizh Nuryadimuhammad23110@mail.unpad.ac.idGenta Khadafi Perdana Putragenta23002@mail.unpad.ac.idDhiyaul Nanda Ghifaridhiyaul23001@mail.unpad.ac.idApda Abdul Azizapda23001@mail.unpad.ac.id<p>Pemahaman fisiologi ikan pascapanen sangat krusial untuk menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan. Sebagai organisme poikiloterm, produk perikanan sangat rentan terhadap perubahan pascapanen seperti rigor mortis, autolisis, dan fluktuasi pH, yang secara langsung memengaruhi tekstur, aroma, rasa, dan masa simpan daging. Penelitian ini berfokus pada fisiologi pascapanen spesies ikan pelagis tertentu (misalnya, Rastrelliger kanagurta dan Scomber japonicus). Setelah kematian, kedua ikan mengalami rigor mortis akibat penumpukan asam laktat dan penurunan pH, diikuti autolisis yang menyebabkan pelunakan daging. Spesies pertama mengalami kekakuan otot yang jelas diikuti degradasi enzimatis, sementara spesies kedua, dengan kandungan lemak lebih tinggi, rentan terhadap oksidasi lemak yang memengaruhi bau dan rasa. Penanganan pascapanen yang tepat, khususnya pendinginan cepat, sangat esensial untuk memperlambat proses degradasi ini. Penelitian ini menggunakan uji organoleptik berdasarkan SNI 2729:2013 untuk menilai kesegaran ikan dari Pasar Sumedang Kota. parameter yang diuji adalah kenampakan mata, insang, lendir, daging, bau, dan tekstur menggunakan skala 1-9, dengan nilai minimum 7,0 sebagai standar mutu. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi kemunduran mutu.</p>2025-08-14T00:58:38+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/642Tingkat Keberhasilan Hidup Dan Laju Pertumbuhan Transplantasi Karang Acropora sp. di Perairan Pantai Dego-dego Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.2025-08-19T07:18:11+00:00Putra Astaman Basdaastamanbasda@gmail.comAbdul Raufabdulrauf@Umi.ac.idKamil Yusufkamilyusuf@umi.ac.id<p style="text-align: justify;"> <em>Dego-dego Beach, a tourist destination in Darubiah Village, Bontobahari District, Bulukumba Regency, boasts diverse marine biological resources, including a coral reef ecosystem. However, the condition of this coral reef ecosystem is unfortunately degrading due to numerous environmentally unfriendly tourist activities and a lack of awareness regarding the ecosystem's importance. Consequently, coral reef ecosystem restoration efforts, specifically through coral transplantation, are a suitable option for achieving coral reef sustainability. This research aims to determine the survival rate and growth rate of transplanted corals, as well as to assess the environmental parameters of the waters in the Acropora sp. coral transplantation area at Dego-dego Beach in 2024. The research methodology involved direct observation at the Acropora sp. coral transplantation site in 2024, utilizing both primary and secondary data. The study's findings indicate that the survival rate of Acropora sp. coral transplants from 2024 to 2025 reached 70%. The average total growth rate of the transplanted corals after 12 months of planting was 2.44 cm, with an average monthly growth rate of 0.20 cm/month. And factor inhibiting coral fragment growth is the overly dense placement of fragments, leading to nutrient competition. Additionally, suboptimal substrate types that are easily fragmented by currents or waves can cause excessive sedimentation transport, which in turn disrupts the photosynthesis of zooxanthellae.</em></p>2025-08-14T01:55:43+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/646Analisis Tingkat Kelansungan Hidup dan Laju Pertumbuhan, Lamun (Enhalus acoroides) Dengan Teknik Trasnplantasi Frame Bambu di Desa Laikang Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar2025-08-19T07:18:40+00:00Muh Taufik Hidayatmuh.taufikhidayatmth@gmail.comHamsiah Hamsiahhamsiah@umi.ac.idKamil Yusufkamilyusuf@umi.ac.id<p style="text-align: justify;"><em>Seagrass is the only flowering plant (Spermatophyta) that can adapt to aquatic environments and can live in saltwater media, function normally in submerged conditions, have a strong root system. Seagrass beds play an important role in the ecological structure of coastal areas. In its development, many seagrass areas have experienced disturbances or damage due to natural disturbances or human activities. The purpose of this study is to overcome damage to seagrass ecosystems, understand the optimal conditions that support growth (Enhalus acoroides), as information and reference material for carrying out rehabilitation activities in damaged seagrass conditions. Using the bamboo frame transplantation method, leaf marking method, and environmental parameter collection method. The results showed that the survival rate of Enhalus acoroides after 28 days was 40% at station 1 and 57% at station 2. The average growth rate of E. acoroides at station 1 reached 0.374 cm/day. At station 2, the markers on the leaves of E. acoroides were lost due to physical damage caused by strong currents. Environmental factors were identified as the main cause of the low survival rate and growth rate of E. acoroides.</em></p>2025-08-14T02:13:27+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/679Analisis Kondisi dan Karakteristik Morfometrik Lamun di Perairan Tanah Lemo Kelurahan Tanah Lemo Kabupaten Bulukumba2025-08-15T03:36:56+00:00Nurmawaddah Syaharnrmwddhsyhr28@gmail.comHamsiah Hamsiahhamsiah@umi.ac.idSyahrul Djafarsyahruldjafar@umi.ac.id<p style="text-align: justify;">Lamun (<em>Seagrass</em>) merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup di perairan dangkal dan memiliki daun, akar dan rhizoma serta berkembangbiak secara generatif (biji) dan vegetatif (tunas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan karakteristik morfometrik lamun di perairan Tanah Lemo, Kelurahan Tanah Lemo, Kabupaten Bulukumba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek kuadran dengan ukuran 1 x 1 meter pada meter 0 meter, 50 meter dan 100 meter di tiga stasiun berbeda. Pengambilan data di mulai dengan pengambilan data komposisi jenis lamun, kerapatan jenis lamun dan terakhir pengambilan sampel morfometrik lamun dengan memilih satu tegakan di setiap plot secara acak. Setelah tegakan terpilih, morfometrik lamun diukur, yaitu panjang daun, lebar daun, panjang rhizoma dan panjang akar. Hasil penelitian di perairan Tanah Lemo menujukkan kondisi lamun dengan komposisi dan kerapatan dengan jenis <em>T.hemprchii</em> dengan nilai 71,58% dan 112,59 Ind/m<sup>2</sup>, <em>E.acoroides</em> dengan nilai 22,27% dan 38,82 Ind/m<sup>2 </sup>dan <em>S.isoetifolium</em> dengan nilai 6,13% dan 6,88 Ind/m<sup>2</sup> dengan kerapatan lamun berada pada kondisi jarang dengan nilai 52,76 Ind/m<sup>2</sup>. Morfometrik jenis lamun yang dominan adalah jenis <em>T.hemprichii</em> dengan rata-rata panjang daun 163,16 mm, lebar daun 4,06 mm, panjang rhizoma 23,66 mm dan panjang akar 72,2 mm dengan parameter perairan masih mendukung pertumbuhan lamun.</p>2025-08-14T02:50:47+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/680Analisis Cadangan dan Serapan Karbon pada Mangrove (Rhizophora mucronata) di Kawasan Wisata Mangrove Luppung Desa Manyampa Kecamatan Ujungloe Kabupaten Bulukumba2025-08-15T03:38:25+00:00Sri Wahyuni Handayanisriwahyunihandayani45@gmail.comAsbar Asbarasbar@umi.ac.idMuhammad Yunusmuhammadyunus@umi.ac.id<p>Karbon adalah unsur non-logam alami yang melimpah dan merupakan dasar dari sebagian besar organisme hidup. Karbon merupakan komponen utama penyusun biomassa tanaman melalui proses fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung cadangan dan serapan karbon pada Mangrove jenis Rhizophora mucronata di Kawasan Wisata Mangrove Luppung, Desa Manyampa, Kecamatan Ujungloe, Kabupaten Bulukumba. Kandungan karbon dihitung berdasarkan nilai karbon yang merupakan hasil pengukuran laboratorium dan luas area penuh. Hutan mangrove mampu menyerap CO2 pengolah bahan-bahan limbah, tempat pemijahan, dan lain-lain. Hasil Penelitian menunjukkan perbandingan sediaan karbon pada setiap bagian mangrove terlihat pada data hasil pengamatan yang memiliki perbedaan yang cukup signifikan, yang dimana batang menyimpan karbon terbesar sebesar 2,58 gram/m2, diikuti dengan daun yang menyimpan 2,57 gram/m2 karbon, dan akar yang menyimpan karbon sebanyak 2,16 gram/m2. Begitu pula dengan serapan karbon yang dimana serapan karbon tertinggi terdapat pada bagian batang sebesar 9,44 gram/m2, diikuti oleh daun sebesar 9,42 gram/m2, dan yang terendah pada bagian akar sebesar 7,93 gram/m2. Hal ini menunjukkan bahwa batang memiliki kontribusi lebih besar dalam menyimpan karbon dibandingkan bagian lainnya.</p>2025-08-14T02:53:01+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/643Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Pantai Cempae Kecamatan Soreang Kota Parepare2025-08-19T04:51:18+00:00Zul Hamizan _hamizanzul483@gmail.comDanial Danialdanial@umi.ac.idAsmidar Asmidarasmidar@umi.ac.id<p><em>Beach tourism is a visit made by a person or group of people to enjoy the beauty of the sea and has the aim of doing special activities such as swimming and or just sunbathing on the beach. The purpose of this study is to determine the level of suitability of the Cempae Beach tourist area, Soreang District. This study was conducted in March - April located at Cempae Beach, Soreang District, Parepare City. The method used in this study is land suitability data collection using 10 suitability matrices from Yulianda 2019 with direct observation methods measuring beach type parameters, beach width, water bottom material, water depth, water clarity, current speed, beach slope, coastal land cover, dangerous biota and fresh water availability. The results of the study of the suitability analysis of Cempae Beach tourist land, Soreang District, Parepare City are classified as suitable (S2) with an IKW value of station 1 of 70.67% (S2), the Tourism suitability Index value at station 2 with a figure of 67.00% (2) and for the suitability value of station 3 with a figure of 59.00% (S3). The results of the study show that the level of suitability of Cempae Beach tourism is included in the Suitable category (S2) with an average value of 65.56%, of the 50 respondents who agreed, 65.62% were in the "Good" category so that the location can be used as a beach tourism spot.</em></p>2025-08-15T03:17:35+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.fpik.umi.ac.id/index.php/jiwall/article/view/556Uji Hedonik Pada Produk Hasil Perikanan (Bakso Ikan) : Ikan Tenggiri (Scomberomorus Spp.) Cumi-Cumi (Loligo Spp.) Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Benteng Kepulauan Selayar2025-08-20T06:56:26+00:00rahayu-91abriani abriani saharrahayuabriani97@gmail.com<p style="text-align: justify;">Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi dan pengolahan hasil perikanan karena kekayaan sumber daya lautnya yang melimpah. Salah satu produk olahan perikanan yang populer dan bernilai tambah tinggi adalah bakso ikan. Tiga bahan baku utama yang sering digunakan dalam pembuatan bakso ikan adalah ikan tenggiri (Scomberomorus spp.), cumi-cumi (Loligo spp.), dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Setiap bahan baku memberikan profil rasa, tekstur, dan aroma yang berbeda, yang mempengaruhi preferensi konsumen. Hingga saat ini, masih sedikit penelitian mengenai preferensi konsumen terhadap bakso ikan yang terbuat dari ikan tenggiri, cumi-cumi, dan ikan cakalang. Kurangnya data empiris ini menyulitkan produsen dalam mengembangkan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut dengan mengevaluasi tingkat kesukaan konsumen terhadap bakso ikan yang terbuat dari ketiga bahan baku tersebut. Hasil penelitian ini dapat memberikan panduan bagi produsen dalam mengembangkan produk yang lebih diterima di pasar. Analisis uji hedonik menunjukkan bahwa bakso ikan tenggiri lebih disukai di semua atribut sensorik, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik berdasarkan uji ANOVA. Hal ini menunjukkan adanya preferensi yang jelas dari konsumen terhadap bakso ikan yang berbahan dasar ikan tenggiri.</p>2025-08-16T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##